Jumat, 03 Februari 2017

Puisi Khalil Gibran - Cinta Yang Agung

CINTA YANG AGUNG


Adalah ketika kamu menitikkan air mata
Dan masih peduli terhadapnya...
Adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu masih
Menunggunya dengan setia...

Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain
Dan kamu masih bisa tersenyum sembari berkata ‘Aku, Turut berbahagia untukmu’

Apabila cinta tidak berhasil...bebaskan dirimu...
Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya
Dan terbang ke alam bebas lagi...
Ingatlah...bahwa kamu mungkin menemukan cinta dan kehilangannya...
Tapi...ketika cinta itu mati...kamu tidak perlu mati
Bersamanya...

Orang terkuat bukan mereka yang selalu menang...
Melainkan mereka yang tetap tegar ketika
Mereka jatuh


(Karya : Khalil Gibran)


0 komentar:

Puisi Sanusi Pane - Kepada Ki Hajar Dewantara

KEPADA KI HAJAR DEWANTARA


Dalam kebun di tanah airku
Tumbuh sekuntum bunga teratai
Tersembunyi kembang indah permai
Tiada terlihat orang yang lalu
Akhirnya tumbuh di hati dunia
Daun bersemi, laksmi mengarang
Biarpun dia diabaikan orang
Seroja kembang gemilang mulia
teruslah, o, teratai bahagia
berseri di kebun Indonesia
biarkan sedikit penjaga taman
biarpun engkau tidak terlihat
biarpun engkau tidak diminat
engkau turun menjaga taman


1957
(Karya : Sanusi Pane)


0 komentar:

Puisi W.S. Rendra - Sajak Mata-mata

SAJAK MATA-MATA


Ada suara bising di bawah tanah.
Ada suara gaduh di atas tanah.
Ada ucapan-ucapan kacau di antara rumah-rumah.
Ada tangis tak menentu di tengah sawah.
Dan, lho, ini di belakang saya
Ada tentara marah-marah.

Apaa saja yang terjadi ? Aku tak tahu.

Aku melihat kilatan-kilatan api berkobar.
Aku melihat isyarat-isyarat.
Semua tidak jelas maknanya.
Raut wajah yang sengsara, tak bisa bicara,
Menggangu pemandanganku.

Apa saja yang terjadi ? Aku tak tahu.

Pendengaran dan penglihatan
Menyesakkan perasaan,
Membuat keresahan –
Ini terjadi karena apa-apa yang terjadi
Terjadi tanpa kutahu telah terjadi.
Aku tak tahu. Kamu tak tahu.
Tak ada yang tahu.

Betapa kita akan tahu,
Kalau koran-koran ditekan sensor,
Dan mimbar-mimbar yang bebas telah dikontrol.
Koran-koran adalah penerusan mata kita.
Kini sudah diganti mata yang resmi.
Kita tidak lagi melihat kenyataan yang beragam.
Kita hanya diberi gambara model keadaan
Yang sudah dijahit oleh penjahit resmi.

Mata rakyat sudah dicabut.
Rakyat meraba-raba di dalam kasak-kusuk.
Mata pemerintah juga diancam bencana.
Mata pemerintah memakai kacamata hitam.
Terasing di belakang meja kekuasaan.
Mata pemerintah yang sejati
Sudah diganti mata-mata.

Barisan mata-mata mahal biayanya.
Banyak makannya.
Sukar diaturnya.
Sedangkan laporannya
Mirip pandangan mata kuda kereta
Yang dibatasi tudung mata.

Dalam pandangan yang kabur,
Semua orang marah-marah.
Rakyat marah, pemerinta marah,
Semua marah lantara tidak punya mata.
Semua mata sudah disabotir.
Mata yangbebas beredar hanyalah mata-mata.


Hospital Rancabadak, Bandung, 28 Januari 1978
(Karya : W.S. Rendra)


0 komentar:

Kamis, 26 Januari 2017

Puisi Chairil Anwar - Doa

DOA


Tuhanku
dalam termanggu
ku sebut namu Mu
biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh

Tuhanku
cahaya Mu panas suci
bagai kerdip lilin
di kelam sunyi

Tuhanku
aku hilang bentuk
kembara di negeri asing

Tuhanku
dipintuMu ku ketuk
aku tak bisa berpaling.


(Karya : Chairil Anwar)


0 komentar:

Puisi W.S. Rendra - Sajak Seorang Tua Untuk Istrinya

SAJAK SEORANG TUA UNTUK ISTRINYA


Aku tulis sajak ini
Untuk menghibur hatimu
Sementara kau kenangkan encokmu
Kenangkanlah pula masa remaja kita yang gemilang
Dan juga masa depan kita
Yang hampir rampung
Dan dengan lega akan kita lunaskan.

Kita tidaklah sendiri
Dan terasing dengan nasib kita
Karna soalnya adalah hukum sejarah kehidupan.
Suka duka kita bukanlah istimewa
Karna setiap orang mengalaminya.

Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh
Hidup adalah untuk mengolah hidup
Bekerja membalik tanah
Memasuki rahasia langit dan samodra,
Serta mencipta dan mengukir dunia.
Kita menyandang tugas,
Karna tugas adalah tugas.
Bukannya demi sorga atau neraka.
Tetapi demi kehormatan seorang manusia.

Karna sesungguhnyalah kita bukan debu
Meski kita telah reyot, tua renta dan kelabu.
Kita adalah kepribadian
Dan harga kita adalah kehormatan kita.
Tolehlah lagi ke belakang
Ke masa silam yang tak seorangpun kuasa menghapusnya.

Lihatlah betapa tahun-tahun kita penuh warna.
Sembilan puluh tahun yang dibelai napas kita.
Sembilan puluh tahun yang selalu bangkit
Melewatkan tahun-tahun lama yang porak poranda.
Dan kenangkanlah pula
Bagaimana kita dahulu tersenyum senantiasa
Menghadapi langit dan bumi, dan juga nasib kita.
Kita tersenyum bukanlah kerna bersandiwara.
Bukan karna senyuman adalah suatu kedok.
Tetapi karna senyuman adalah suatu sikap.
Sikap kita untuk Tuhan, manusia sesama,
Nasib, dan kehidupan.

Lihatlah! Sembilan puluh tahun penuh warna
Kenangkanlah bahwa kita telah selalu menolak menjadi koma.
Kita menjadi goyah dan bongkok
Karna usia nampaknya lebih kuat dari kita
Tetapi bukan kerna kita telah terkalahkan.

Aku tulis sajak ini
Untuk menghibur hatimu
Sementara kaukenangkan encokmu
Kenangkanlah pula
Bahwa kita ditantang seratus dewa.


(Karya : W.S. Rendra)


0 komentar:

Puisi Taufiq Ismail - Karangan Bunga

KARANGAN BUNGA


Tiga anak kecil
Dalam langkah malu-malu
Datang ke Salemba
Sore itu

Ini dari kami bertiga
Pita hitam pada karangan bunga
Sebab kami ikut berduka
Bagi kakak yang ditembak mati
Siang tadi


 (Karya : Taufiq Ismail)


0 komentar:

Kamis, 19 Januari 2017

Puisi Khalil Gibran - Hapus Air Matamu

HAPUS AIR MATAMU


Hapus air matamu
Aku tak ingin kau menangis lagi sayang
Yakin kan hati
Diriku tak akan memilih meninggalkanmu

Sekian waktu bersama
Tak bisa menepis kenyataan
Kita berbeda jalani keyakinan
Tapi kau yang kuinginkan dari segalanya

Setiap rinduku hanya memanggilmu
Ku yakin kaupun mengerti
Ku tak ingin menanggalkan hati
Yang telah satu untuk dirimu

Sayangku dengarkan aku
Takmungkin ku melepasmu
Kan kupertahankan Kau cinta aku
Dan semua air matamu kan berarti dihidupku

Bawalah cintaku bersamamu
Karena kau tetap miliku selamanya
Dan menikahlah denganku
Bahagialah sampai batas waktu tak terhenti
Ku hanya ingin kau jadi istriku        
Untukmu satu cinta dihati


(Karya : Khalil Gibran)




0 komentar:

Rabu, 18 Januari 2017

Puisi Subagjo Sastrowardojo - Terima Kasih Kepada Pagi

TERIMA KASIH KEPADA PAGI


Terima kasih kepada pagi
Yang membawa nyawaku
Pulang dari kembara
Di laut mimpi gelombang begitu tinggi
Dan bulan yang berlayar tenggelam di kelam badai
Terenggut dari pantai
Aku berteriak minta matahari


(Karya : Subagjo Sastrowardojo)


0 komentar:

Puisi Rachmat Djoko Pradopo - Sajak Putih

SAJAK PUTIH


Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam noda tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku

Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah

Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita mati datang tidak membelah….


(Karya : Rachmat Djoko Pradopo)


1 komentar:

Jumat, 13 Januari 2017

Puisi W.S. Rendra - Kenangan Dan Kesepian

KENANGAN DAN KESEPIAN


Rumah tua
Dan pagar batu
Langit di desa
Sawah dan bambu

Berkenalan dengan sepi
Pada kejemuan disandarkan dirinya
Jalanan berdebu tak berhati
Lewat nasib menatapnya

Cinta yang datang
Burung tak tergenggam
Batang baja waktu lengang
Dari belakang menikam

Rumah tua
Dan pagar batu
Kenangan lama
Dan sepi yang syahdu


(Karya : W.S. Rendra)


0 komentar:

Sajak Dian Hendrayana - Kahatur Jungjunan Kalbu

KAHATUR JUNGJUNAN KALBU
(Keur N)


Saéna ulah aya kecap sono diantawis urang. Mending
      Palidkeun
Urang palidkeun. Da parahu nu kungsi dipaké lalayaran
Cenah
Moal rék kapalang héman ngalalarkeun rusiah duaan
Geusan muru ka muhara kalbu tina geleburna kagandrung
Nu ngunung-ngunung

Saéna urang pungkaskeun nyulam carita duaan. Mending
Sidem,
Da enya mending disidem. Puguh éndah mangsa kakangen
Diumbar ti kaanggangan. Najan enya nyiksa, nanging mangsa
Ngunder kagandrung. Kareureutna langkung-langkung
Ti mangsa tepung


Januari, 2002
(Karya : Dian Hendrayana
Diambil dari: Sawatara Sajak Sunda “Néangan Bulan”)
                                                                                   


0 komentar:

Kamis, 12 Januari 2017

Sajak Euis Balebat - Rusiah Cinta

RUSIAH CINTA
(Keur Lin)


Nganteur pangajak haté
Nuturkeun karep hayang kamana
Lungleng pikir sajajalan
Dirérab bayeungyang beurang
Nu ranggéténg nojosan léngkah
Mipir dayeuh ngaliwatan
Hambalan bingbang
Mapay tarahal jalan satapak
Néang leuweung panyumputan
Rék numpi ngarungkun pikir
Nilemkeun rasa salenyapan
Nyingkahan anjeun
Ngejatan tresna kasmaran
Nu geus ngarampid manah
Sataranjang méh poho ka tangtungan
Nogéncang tina aturan
Kebat mundungan anjeun
Méméh Liwung katalanjuran
Nyapih asih jeung peurihna
Mungkas nineung rusiah cinta


Ujung Berung, Pebruari 2004
(Karya : Euis Balébat
Diambil dari: Sawatara Sajak Sunda “Néangan Bulan”)
                                                                                   


0 komentar: