Biografi - Khalil Gibran
BIOGRAFI KHALIL GIBRAN (1883-1931)
Siapa yang tidak kenal dengan nama Khalil
Gibran. Dia adalah seorang seniman, penyair, dan penulis Lebanon – Amerika.
Gibran Khalil Gibran atau yang lebih dikenal dengan nama Khalil Gibran lahir di
Lebanon, pada 6 Januari 1883 dari ayah yang bernama
Khalil bin Gibran dan ibunya bernama Kamila, dan
meninggal di New York City Amerika Serikat, 10 April 1931 pada umur 48 tahun. Khalil
Gibran adalah seorang penyair terkenal dengan karya-karyanya yang mencerminkan
perpaduan budaya timur dan barat, penuh analogi, disukai berbagai kalangan dan
populer di berbagai belahan dunia.
Ø
Kehidupan Khalil
Gibran
Khalil Gibran
berasal dari keluarga terpandang, kakeknya termasuk tokoh masyarakat di
Besharri, namun hidup dalam kondisi kemiskinan secara ekonomis. Ayahnya bernama
Khalil bin Gibran, seorang gembala yang memiliki kebiasaan memainkan Taoula,
merokok narjille (pipa air), mengunjungi teman-temannya untuk sekedar
mengobrol. Kadangkala ia juga minum arak dan berjalan-jalan di padang luas
pegunungan Lebanon. Sedangkan ibunya, Kamila, adalah anak terakhir dari seorang
pendeta Maronit, Estephanos Rahmi, yang berstatus janda sebelum menikah dengan
Khalil. Pernikahan Kamila dengan suami pertamanya, Hanna Abdel Salam,
dikaruniai seorang putra bernama Peter. Sedangkan dari perkawinannya dengan
suami kedua, yaitu Khalil bin Gibran, Kamila dianugerahi tiga anak. Selain Khalil Gibran diberi nama sama dengan nama ayahnya, Kamila
juga melahirkan dua anak perempuan, yakni Mariana, dan Sultana.
Khalil Gibran lahir dari keluarga miskin di
Basyari, sebuah kota kecil di Lebanon Utara. Keluarganya adalah penganut Katolik Maronit,
suatu mazhab yang bernaung di bawah gereja Katolik Roma. Basyari sendiri
merupakan daerah yang kerap disinggahi badai, gempa serta petir. Tak heran bila
sejak kecil, mata Gibran sudah terbiasa menangkap fenomena-fenomena alam
tersebut. Inilah yang nantinya banyak memengaruhi tulisan-tulisannya tentang
alam.
Pada tahun 1894 karena kesulitan ekonomi di
Lebanon, Gibran bersama keluarganya pindah ke Boston, Massachusetts, Amerika
Serikat. Tak heran bila kemudian Gibran kecil mengalami kejutan budaya, seperti
yang banyak dialami oleh para imigran lain yang berhamburan datang ke Amerika
Serikat pada akhir abad ke-19. Keceriaan Gibran di bangku sekolah umum di
Boston, diisi dengan masa akulturasinya maka bahasa dan gayanya dibentuk oleh
corak kehidupan Amerika. Namun, proses Amerikanisasi Gibran hanya berlangsung
selama tiga tahun karena setelah itu dia kembali ke Beirut, di mana dia belajar
di College de la Sagasse sekolah tinggi Katholik-Maronit sejak tahun
1899 sampai 1902.
Setelah lulus ia mengembara ke Yunani, Italia,
Spanyol dan akhirnya menetap di Paris untuk belajar seni. Gibran meninggalkan
tanah airnya lagi saat ia berusia 19 tahun, namun ingatannya tak pernah bisa
lepas dari Lebanon. Lebanon sudah menjadi inspirasinya. Di Boston dia menulis
tentang negerinya itu untuk mengekspresikan dirinya. Ini yang kemudian justru
memberinya kebebasan untuk menggabungkan 2 pengalaman budayanya yang berbeda
menjadi satu.
Gibran menulis drama pertamanya di Paris dari
tahun 1901 hingga 1902. Tatkala itu usianya menginjak 20 tahun. Selama awal
masa remaja, visinya tentang tanah kelahiran dan masa depannya mulai terbentuk.
Kesultanan Usmaniyah yang sudah lemah, sifat munafik organisasi gereja, dan
peran kaum wanita Asia Barat yang sekadar sebagai pengabdi, mengilhami cara
pandangnya yang kemudian dituangkan ke dalam karya-karyanya yang berbahasa
Arab. Karya pertamanya, "Spirits Rebellious" ditulis di Boston dan
diterbitkan di New York City, yang berisi empat cerita kontemporer sebagai
sindiran keras yang menyerang orang-orang korup yang dilihatnya. Akibatnya, Gibran menerima hukuman berupa
pengucilan dari gereja Maronit. Akan tetapi, sindiran-sindiran Gibran itu
tiba-tiba dianggap sebagai harapan dan suara pembebasan bagi kaum tertindas di
Asia Barat.
Namun, masa-masa pembentukan diri selama di
Paris harus cerai-berai ketika Gibran menerima kabar dari Konsulat Jendral
Turki, yang mengharuskannya kembali ke Lebanon. Sebuah tragedi telah
menghancurkan keluarganya, Adik perempuannya yang paling muda berumur 15 tahun,
Sultana, meninggal karena penyakit TBC. Tak hanya itu, kakaknya Peter, seorang pelayan toko yang menjadi
tumpuan hidup saudara-saudara dan ibunya juga meninggal juga karena TBC. Hanya
adiknya, Marianna, yang masih tersisa, dan ia dihantui trauma penyakit dan
kemiskinan keluarganya. Kematian anggota keluarga yang sangat dicintainya itu
terjadi antara bulan Maret dan Juni tahun 1903. Ia dan adiknya harus menyangga
sebuah keluarga yang tidak lengkap ini dan berusaha keras untuk menjaga
kelangsungan hidupnya.
Pada tahun-tahun awal kehidupan mereka berdua,
Marianna membiayai penerbitan karya-karya Kahlil Gibran dengan biaya yang
diperoleh dari hasil menjahit di Miss Teahan's Gowns. Berkat kerja keras
adiknya itu, Gibran dapat meneruskan karier keseniman dan kesastraannya yang
masih awal.
Ø
Khalil Gibran Dan Karyanya
Pada tahun 1908 Khalil Gibran singgah lagi di
Paris. Di sini dia hidup senang karena secara rutin menerima cukup uang dari
Mary Haskell, seorang wanita kepala sekolah yang berusia 10 tahun lebih tua,
namun dikenal memiliki hubungan khusus dengannya sejak masih tinggal di Boston.
Dari tahun 1909 sampai 1910, ia belajar di School of Beaux Arts dan Julian
Academy. Kembali ke Boston, ia mendirikan sebuah studio di West Cedar Street di
bagian kota Beacon Hill. Ia juga mengambil alih pembiayaan keluarganya. Pada
tahun 1911 Kahlil Gibran pindah ke kota New York. Di New York ia bekerja di
apartemen studionya di 51 West Tenth Street, sebuah bangunan yang sengaja
didirikan untuk tempat ia melukis dan menulis.
Kahlil Gibran mulai aktif menulis beberapa
artikel yang tersebar di berbagai media massa. Tulisan-tulisannya mampu
mencengangkan pengagum sastra dunia, termasuk kritikus sastra Arab terkemuka,
May Zaidah. Bermula dari polemik di media massa sejak 1912, ternyata sentuhan
cinta keduanya mampu merekatkan jarak Amerika-Arab meski sampai akhir hayatnya,
mereka tidak pernah saling bertemu.
Pada tahun 1912, "Broken
Wings" telah
diterbitkan dalam Bahasa Arab. Buku ini bercerita tentang cinta Selma Karami kepada
seorang muridnya. Namun, Selma terpaksa menjadi tunangan kemenakannya sendiri
sebelum akhirnya menikah dengan suami yang merupakan seorang uskup yang
oportunis. Karya Gibran ini sering dianggap sebagai otobiografinya. Pengaruh
"Broken Wings" terasa sangat besar di dunia Arab karena di sini untuk
pertama kalinya wanita-wanita Arab yang dinomorduakan mempunyai kesempatan
untuk berbicara bahwa mereka adalah istri yang memiliki hak untuk memprotes
struktur kekuasaan yang diatur dalam perkawinan. Cetakan pertama "Broken
Wings" ini dipersembahkan untuk Mary Haskell.
Pada tahun 1918, Gibran sudah siap meluncurkan
karya pertamanya dalam bahasa Inggris, "The Madman", "His
Parables and Poems". Persahabatan yang erat antara Mary tergambar dalam
"The Madman". Setelah "The Madman", buku Gibran yang
berbahasa Inggris adalah "Twenty Drawing", 1919; "The
Forerunne", 1920; dan "Sang Nabi" pada tahun 1923, karya-karya
itu adalah suatu cara agar dirinya memahami dunia sebagai orang dewasa dan
sebagai seorang siswa sekolah di Lebanon, ditulis dalam bahasa Arab, namun
tidak dipublikasikan dan kemudian dikembangkan lagi untuk ditulis ulang dalam
bahasa Inggris pada tahun 1918-1922.
Sebelum terbitnya "Sang Nabi",
hubungan dekat antara Mary dan Gibran mulai tidak jelas. Mary dilamar Florance
Minis, seorang pengusaha kaya dari Georgia. Ia menawarkan pada Mary sebuah
kehidupan mewah dan mendesaknya agar melepaskan tanggung jawab pendidikannya.
Walau hubungan Mary dan Gibran pada mulanya diwarnai dengan berbagai
pertimbangan dan diskusi mengenai kemungkinan pernikahan mereka, namun pada
dasarnya prinsip-prinsip Mary selama ini banyak yang berbeda dengan Gibran.
Ketidaksabaran mereka dalam membina hubungan dekat dan penolakan mereka
terhadap ikatan perkawinan dengan jelas telah merasuk ke dalam hubungan
tersebut. Akhirnya Mary menerima Florance Minis.
Pada tahun 1920 Gibran mendirikan sebuah
asosiasi penulis Arab yang dinamakan Arrabithah Al Alamia (Ikatan Penulis).
Tujuan ikatan ini merombak kesusastraan Arab yang stagnan. Seiring dengan
naiknya reputasi Gibran, ia memiliki banyak pengagum. Salah satunya adalah
Barbara Young. Ia mengenal Gibran setelah membaca "Sang Nabi".
Barbara Young sendiri merupakan pemilik sebuah toko buku yang sebelumnya
menjadi guru bahasa Inggris. Selama 8 tahun tinggal di New York, Barbara Young
ikut aktif dalam kegiatan studio Gibran.
Gibran menyelesaikan "Sand and Foam"
tahun 1926, dan "Jesus the Son of Man" pada tahun 1928. Ia juga
membacakan naskah drama tulisannya, "Lazarus" pada tanggal 6 Januari
1929. Setelah itu Gibran menyelesaikan "The Earth Gods" pada tahun
1931. Karyanya yang lain "The Wanderer", yang selama ini ada di
tangan Mary, diterbitkan tanpa nama pada tahun 1932, setelah kematiannya. Juga
tulisannya yang lain "The Garden of the Propeth".
Ø
Khalil Gibran Meninggal Dunia
Khalil Gibran meninggal dunia pada tanggal 10
April 1931 jam 11.00 malam. Tubuhnya memang telah lama digerogoti sirosis
hepatis dan tuberkulosis, tapi selama ini ia menolak untuk dirawat di rumah
sakit. Pada pagi hari terakhir itu, dia dibawa ke St. Vincent's Hospital di
Greenwich Village.
Hari berikutnya Marianna mengirim telegram ke
Mary di Savannah untuk mengabarkan kematian penyair ini. Meskipun harus merawat
suaminya yang saat itu juga menderita sakit, Mary tetap menyempatkan diri untuk
melayat Gibran. Jenazah Gibran kemudian dikebumikan tanggal 21 Agustus di Mar
Sarkis, sebuah biara Karmelit di mana Gibran pernah melakukan ibadah.
Sepeninggal Gibran, Barbara Younglah yang
mengetahui seluk-beluk studio, warisan dan tanah peninggalan Gibran. Juga
secarik kertas yang bertuliskan, "Di dalam hatiku masih ada sedikit
keinginan untuk membantu dunia Timur, karena ia telah banyak sekali
membantuku."


0 komentar: